JAMPRIBADI

Senin, 19 April 2010

Resume Peristiwa 3 Daerah


Oleh: Ana Ngatiyono S.Pd

RESENSI
Judul buku : One Soul One Struggle: Peristiwa Tiga Daerah Dalam
Revolusi Indonesia
Pengarang : Anton Lucas
Penerbit : Resist Book
Kota terbit : Yogyakarta
Tahun terbit : 2004
Tebal halaman : 400 halaman

Buku karangan Antom Lucas ini berisi mengenai perjalanan revolusi Indonesia yang terjadi di tiga daerah yaitu Tegal, Pemalang, dan Brebes (karisidenan Pakalongan). Peristiwa ini terjadi pada bulan Oktober sampai Desember 1945. Peristiwa ini terjadi setelah seluruh elite birokrat, pangreh praja (residen, bupati, wedana, camat), dan sebagain besar kepala desa diganti oleh aparatur pemerintah yang baru. Pergantian seluruh aparatur pemerintah ini berasal dari berbagai aliran yang pada waktu itu berkembang dan diakui oleh pemerintah yaitu Islam, komunis, serta sosialis. Disinilah mulai terjadi pertentangan antara golongan kiri dan golongan Islam ataupun golongan lain yang merasa dirugikan.
Peristiwa ini dapat mengambarkan bagaimana proses pergolakan tersebut. Sehingga Revolusi Tiga Daerah penting sebagai revolusi lokal Indonesia. Revolusi Tiga Daerah merupakan salah satu revolusi lokal Indonesia yang mempunyai ciri dan keunikan khusus karena dianggap sebagai sebuah revolusi rakyat untuk mengubah struktur masyarakat kolonial dan feodal menjadi sebuah masyarakat dengan hidup yang lebih demokratis tanpa penindasan dan eksploitatif dari pemeritah kolonial. Terjadinya revolusi ini merupakan wujud ketidakpuasan rakyat dengan kehidupan pada waktu itu yang didominasi oleh kemerosotan ekonomi dan kemelaratan sehingga membuat rakyat melakukan berbagai perlawanan terhadap elite birokrat. Perlawanan-perlawanan di karisedenan Pekalongan sebenarnya sudah dirintis sejak lama, antara lain Sarekat Rakyat Pekalongan tahun 1918 ataupun PKI dan Sarekat Rakyat tahun 1926 namun perlawanan-perlawanan ini hanya dalam lingkup kecil dan meletusnya Peristiwa Tiga Daerah ini merupakan titik puncak dari perlawanan-perlawanan tersebut.
Oleh sebab itu, dalam lebih memahmi Peristiwa Tiga Daerah harus terlebih dahulu mengetahui sejarah politik dari masing-masing daerah ini. Peristiwa-peristiwa ini antara lain, pada abad ke Sembilan belas terjadi aksi protes terhadap tanam paksa di pabrik gula dan beban wajib kerja (corvee) yang menjadi inti tanam paksa Belanda. Selanjutnya terjadi berbagai macam pemerontakan kecil diantaranya “ Brandal Mas Cilik” di Tegal yang merupakan pemebrontakan petani pada tahun 1864, pemberontakan ini dipimpin oleh dukun yang bernama Mas Cilik yang menyerang dan membunuh pegawai pabrik gula milik Belanda di Tegal. Selain itu, pada tahun 1926 berbarengan dengan meletusnya pemberontakan PKI di berbagai daerah, di Tegal juga terjadi pemberontakan petani yaitu aksi protes untuk melawan corvee dengan ideology mereka yaitu ideology komunis yang pada waktu itu merupakan salah satu ideologi masa terbesar di Indonesia. Akibat pemberontakan petani dengan payung komunis ini mengalami kegagalan, maka para pemimpin yang terlibat dalam aksi masa tersebut banyak dipenjarakan dan dibuang di Boven Digul. Setelah kembali dari pembuangan inilah mereka kembali mengorganisasi masa di Tiga Daerah untuk melakukan revolusi yang bertujuan mengubah struktur pemerintahan pada tahun 1945. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadinya pemberontakan-pemberontakan petani merupakan embrio dari Peristiwa Tiga Daerah.
Tiga peristiwa penting di Tiga Daerah, meliputi berbagai sudut kajian yakni kekosongan kekuasaan pada tahun 1942, perebutan kekuasaan dan stabilisasi kekuasaan melalui proses kelompok radikal, hal ini penting untuk menjadi bahan kajian dan refleksi diri dari para penggerak pembaharuan. Peristiwa Tiga Daerah ini mempunyai nilai lebih dari hanya sekedar revolusi sosial untuk melakukan protes terhadap eksploitasi yang dilakukan Belanda, namun selain latar belakang sosial dan politik, serta ekonomi masih banyak sekali latar belakang lain sehingga peristiwa ini meletus dan menjadi peristiwa revolusi lokal yang penting. Faktor-faktor ini dapat diidentifikasi sebagai faktor kepemimpinan, ideologi dan konteks kebudayaanya. Dan untuk mengungkap segi-segi lain dari revolusi ini, Anton Lucas lebih mementingkan menggunakan sejarah lisan sebagai salah satu sumber utama penulisanya. Dengan penggunaan sumber lisan, dapat diketahui apa artinya revolusi bagi pelakunya sendiri sehingga akan ditemukan berbagai sebab kompleks terjadinya Peristiwa Tiga Daerah.
Dalam buku ini juga dibahas mengenai latar belakang revolusi dilihat dari faktor fisik daerah. Brebes, yang berbatasan dengan Jawa barat yang berbahasa sunda dan daerah pedalaman Banyumas selatan, bukan saja secara geografi terpecah belah, melainkan adat istiadat dan bahasa ditarik kedua arah yaitu bahasa Jawa dan Sunda. Banyaknya perbedaan inilah yang mengakibatkan sering munculnya pergolakan di daerah ini. Tegal sebuah kota dengan kondisi masyarakat dengan tingkat kemiskinan lebih tinggi dari pada wilayah tetangganya yang juga melakukan revolusi lokal ini, meskipun demikian Tegal mempunyai kebanggaan karena dikuasai oleh seseorang yang mengerti betul perwatakan di wilayah ini. Pemalang sebuah kawasan yang cukup kaya dibandingkan dengan dua wilayah lainya. Revolusi yang terjadi di Pemalang ini merupakan pengaruh dari Brebes, Tegal atau Pekalongan. Peristiwa Tiga Daerah mebuktikan bahwa Pemalang dapat menjadi petunjuik jalan bagi daerah yang lain.
Dalam penulisan ini, kenapa penulis lebih menitikberatkan pada sumber lisan selain juga sumber tertulis karena sangat langka ditemukan sumber tertulis, sehingga sumber lisanlah sumber penting dsalam pengungkapan peristiwa ini.
Sebagai salah satu peristiwa revolusi yang terjadi di Indonesia pada umumnya dan kerisedenan Pekalongan pada khususnya (Peritiwa Tiga Daerah), apabila dianalisa dari berbagai sudut pandang terjadinya peristiwa ini, maka akan diperoleh berbagai makna terjadinya peristiwa ini. Pertama, untuk memahami kejadian revolusi pada tahun 1945 ini ialah perubahan sebelumnya, yaitu dalam bidang ekonomi dan politik sebelum Perang Dunia Kedua. Hal ini harus dikaitkan juga dengan perubahan ekonomi akibat masuknya modal asing (Eropa) di abad sembilan belas dan sistem Tanam Paksa yang berpengaruh besar pada kehidupan petani. Di tempat yang ada pabrik gula, golongan elit birokrat (pangreh praja), maupun kepala desa sering bertindak sebagi pejabat kapitalis Eropa, seperti dalam soal sewa tanah, penarikan pajak dan corvee (kerja paksa) yang menyebabkan masyarakat kecil terutama para petani menajdi semakin menderita. Dari penderitaan inilah semangat revolusi muncul untuk melawan kolonial Belanda maupun birokrat pemerintah di masing-masing daerah dan munculah apa yang sering disebut sebagai Peristiwa Tiga Daerah.
Kedua, dampak pendudukan Jepang yang membebani rakyat dengan wajib pajak dalam wujud setor padi, romusha, tanam paksa, dan penjarahan bahan pokok. Walaupun dampak sistem penjatahan bahan pokok dalam romusha berbeda menurut tempat, yaitu tergantung pada sikap pejabat-pejabat lokal dan para pemimpin perjuangan setempat, namun pelaksanaan peraturan peraturan setoran padi merupakan beban yang berat dalam bidang ekonomi di masa penjajahan Jepang. Akibat kebijakan ini, telah menyebabkan terjadinya kelaparan dimana-mana termasuk juga di tiga daerah ini. Oleh sebab itu, muncul perasaan kebencian yang mendalam terhadap para elite birokrat, yang menurut rakyat dianggap sebagai biang keladi terjadinya berbagai kasus kelaparan yang diakibatkan kesewenang-wenangan dalam menarik setor padi.
Ketiga, terlihatnya ciri-ciri revolusi sosial di masa revolusi di Pekalongan antara lain yaitu pembagian kekayaan, pengusiran atau pergeseran elite lama dan pemimpim tradisional lain yang dianggap terlalu keras terhadap rakyat dan setia kepada Belanda dan Jepang. Dalam hal ini revolusi di wilayah Pekalongan punya ciri khas tersendiri yaitu dengan adanya kekerasan terhadap golongan Cina, Indo-Belanda, Pangreh Praja dan Lurah. Namun pembahasan mengenai kekerasan terhadap orang-orang Cina masih simpang siur sehingga revolusi ini belum dapat dikatakan sebagai gerakan anti Cina. Hal ini dapat dibuktikan dari banyaknya orang-orang Cina yang menjadi pemimpin pejuang khususnya di Pemalang, selain itu, mereka juga menajdi penyumbang dana terbesar untuk membantu revolusi ini.
Dalam buku tulisan Anton Lucas ini juga membicarakan sifat revolusi Tiga Daerah dilihat dari berbagai pendekatan yang dilakukan, baik terhadap golongan kiri, Islam, maupun militer. Dalam mengikuti jejak para pemimpin aliran kiri di tiga daerah ini tidak sulit karena tokoh-tokoh kiri mempunyai peranan yang penting pada awal terjadinya revolusi. Kelompok-kelompok kiri yang berperan penting dalam Peristiwa Tiga Daerah ini dapat digolongkan menajdi berbagai kelompok, antara lain. Kelompok pertama, yang termasuk di dalam aliran kiri di Tiga Daerah, yaitu veteran pemberontakan komunis tahun 1926 bekas tokoh-tokoh yang dibuang di Boven Digul, termasuk di dalamnya pemimpin Barisan Pelopor dan Badan Pekerja di Tegal dan Brebes, AMRI Slawi, dan Gabungan Badan Perjuangan Tiga Daerah (GBP3D) itu. Mereka anti fasis dan tidak berkompromi dengan Belanda dan pengikutnya yaitu kalangan feodal atau pangreh praja.
Kelompok kedua, yaitu kelompok sosialis yang berpengaruh di tegal dan Brebes ikut mengaktifkan KNI sebagai wakil pemerintahan sesudah proklamasi dan berusaha mempengaruhi sikap pangreh praja ke arah yang lebih mendukung republik yang baru. Di antara ada yang duduk dalam GBP3D yang diketuai oleh K. Mijaya itu. Kelompok sosialis juga mempunyai saluran ke tingkat nasional lewat dua tokoh yang berasal dari Tegal. Yang pertama, Supeno, anggota partai sosialis dan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) yang kemudian menjadi Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta yang pertama (1948-1949), membela perkara Tiga Daerah di Pengadilan Pekalongan pada awal 1947. tokoh kedua ialah Subagio Mangunrahaharjo pemimpin PNI-baru dan sahabat Perdana Menteri Sutan Syahrir.
Kelompok ketiga yaitu PKI bawah tanah. Dimulai akhir tahun 30-an di Surabaya Widarta dan K. Mijaya cs, telah memupuk kader-kader yang progresif melawan fasisme. Tindakan mereka di masa pendudukan Jepang, antara lain di Lasem, Blitar, dan Pemalang, meskipun dengan jaringan lokal yang terbatas, tetapi ikut menentukan cita-cita Gerakan Tiga Daerah itu. Dam justru kelompok progresif inilah yang melakukan berbagai tindakan ekstrem saat Peristiwa Tiga Daerah Berlangsung.
Selain kelompok kiri yang terdiri dari golongan sosialis dan komunis elemen lain yang juga sangat penting perananya dalam Peristiwa Tiga Daerah adalah, kelompok Islam. Golongan agama di Pekalonagn terpecah antara Islam nasionalis dan Islam Muhammadiyah. Islam nasionalis sejak zaman Sarekat Islam, melakukan kegiatan melawan kolonial Belanda maupun Jepang yang tokohnya antara lain KH Abu Sujai yang menjadi bupati Tegal pada waktu Peristiwa Tiga Daerah itu. Di Tegal, 22 persen camat baru yang terpilih terdiri dari golongan Islam nasionalis. Di Pemalang, kelompok ini disebut sebagai santri rakyat, dengan maksud untuk membedakan mereka dari golongan Muhammadiyah yang anggotanya adalah golongan priyayi, sedangkan di Pekalongan anggota Muhammadiyah adalah para pedagang. Tokoh Islam Muhammdiyah adalah KH. Iskandar Idris, komandan TKR Pekajangan, yang merupakan gabungan dari dua elemen perjuangan yaitu TKR dan Muhamadiyah yang berhasil menghentikan pemerintah revolusioner baru, baik di karisidenan Pekalongan maupun di Tiga Daerah yaitu Tegal, Brebes, dan Pemalang. Namun golongan Muhammadiyah pada waktu itu kurang memahami bahwa masalah kemiskinan santri-santri di Tiga Daerah itu serta hubunganya dengan masalah yang dimiliki oleh kaum revolusioner di Tiga Daerah.
Militer di Pekalongan pendekatan lain yang dilakukan oleh Anton Lucas dalam melihat revolusi lokal pada waktu itu. Karena sekutu tidak mendarat di Pekalongan, maka TKR mengutamakan perlawanan terhadap sekutu di Front Semarang. TKR menganggap transportasi tenaga dan logistik dari Pekalongan ke front Semarang dihalangi oleh penguasa baru, sehingga tindakan ini oleh TKR dikategorikan sebagai penghalang fokus perjuangan nasional pada waktu itu. Di pihak lain, kaum revolusioner menganggap TKR sebagai alat pangreh praja dan kekuatan feodal lama, dengan alasan bahwa perwira TKR terdiri dari kalangan priyayi, yaitu anak-anak dari pangrehpraja setempat. Dari sudut inilah dapa dilihat dari latar belakang mengapa TKR menangkap dan memenjarakan residen Pekalongan yang baru, beserta seluruh staf dan pengikutnya, dan para pemimpin revolusioner di Tiga Daerah.
Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa penyebab peristiwa Tiga Daerah bukan hanya dari sektor ekonomi maupun politik, tetapi juga dapat dilihat dari faktor budaya. Oleh sebab itulah, penulis banyak mengunakan sumber lisan yang dimaksudkan agar penyebab lain peristiwa ini dapat terungkap. Sehingga untuk menjelaskan sifat revolusi yang lain dapat melakukan pendekatan yaitu dari persepsi kesadaran atau perasaan gejolak revolusi ini telah mempersatukan veteran PKI 1926, santri, rakyat dan pemuda di kota dengan para Lenggaong dan pemimpin Islam nasionalis.Menurut pandangan kaum priyayi bahwa kepemimpinan revolusi sosial itu adalah sesuatu yang berasal dari luar atau asing, namun menurut golongan kiri revolusioner, tujuan utama revolusi mereka adalah penghapusan hierarki sosial dalam penggunaaan bahasa. Mereka menghendaki hapusnya sebutan-sebutan untuk kaum priyayi dan menggunakan bahasa Jawa rendah dalam berkomunikasi, dan hal ini merupakan suatu gerakan radikal yang mendasar di dalam konteks kebudayaan Jawa. Hal ini juga didasarkan tujuan dari ideology komunis yaitu persamaan diantara seluruh rakyat,.
Kelebihan Buku
Buku karangan Anton Lucas ini berisi data-data yang objektif karena sumber yang digunakan merupakan perpaduan antara sumber lisan dengan arsip-arsip. Penjelasan didalamnya juga sudah cukup detail karena banyak mengungkapkan latar belakang peistiwa dengan terlebih dahulu menrik garis dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum Peristiwa Tiga Daerah Berlangsung. Selain itu, pendekatan-pendekatan yang dilakukan penulis terhadap berbagai golongan, baik golongan kiri, Islam, maupun militer telah mengungkapkan berbagai sifat dan ciri Revolusi Tiga Daerah ini. Sedangkan dari sumber lisan yang dugunakan dapat dipandang sebagai sebuah kalemahan dan kelebihan. Dipandang sebagai kelebihan karena dengan sumber lisan isi buku Anton Lucas dapat menjelaskan makna revolusi bagi tiap-tiap pelaku sehingga dapat menambah latar belakang peristiwa ini.

Kelemahan Buku
Kelemahan dalam buku ini yaitu karena isinya banyak terdapat tempat tokoh dan peristiwa dalam waktu yang relative singkat. Pendekatan kronologis dalam penulisan ini juga kurang karena peristiwa ditulis terkadang tidak sesuai dengan kronologis waktu. Sementara dari sumber lisan yang digunakan, apabila dilihat dari segi kelemahanya, maka sumber lisan terkadang banyak unsure subjektifitas dari para responden karena terkadang data yang digunakan tidak terlepas dari kepentingan responden.

1 komentar: